Cerpen : Kakek Dalam Kenangan
KAKEK
DALAM KENANGAN
Adzan
subuh mulai terdengar ditelingaku, aku langsung terbangun dari tidurku. Kulirik
sebelah kanan, masih ada adikku yang tertidur pulas seperti bermimpi indah. Aku
pun langsung meninggalkan tempat tidur dan menuju ke kamar mandi untuk
berwudhu. Setelah selesai berwudhu aku langsung menyegerakan untuk sholat
subuh. Saat aku hendak berdo’a, aku seperti mendengar suara isak tangis ibuku,
dalam pikiranku seperti banyak sekali pertanyaan mengapa ibu menangis. Lalu
ayah menyuruhku agar cepat pergi ke rumah kakek. Aku sempat bertanya-tanya
sebenarnya apa yang terjadi.
Saat
itu pun aku langsung menuju rumah kakek yang jaraknya tidak jauh dari rumah.
Langkah kaki ku pun terus berjalan, hingga berada dikejauhan aku melihat ada
bendera berwarna kuning yang menjuntai di sepotong bambu. Aku merasa terkejut
dan kulanjutkan langkahku dengan cepat seiring dengan irama jantungku yang
berdetak cepat. Belum sampai lima kali aku melangkah, terdengar suara lantunan
surat Yasin yang menghentikan langkahku. Suara kalam Allah itu terdengar
semakin jelas ditelinga saat aku melangkahkan kakiku lagi. Bukan hanya satu suara tapi banyak. Suara itu
tidak seperti alunan indah di hatiku, melainkan suara pernah yang menggores
jantungku secara perlahan. Aku melanjutkan langkah ku dengan sangat cepat,
hingga sampai didepan pintu rumah kakek. Ternyata, disana aku melihat kakek
terbaring kaku ditutup dengan kain suci dan dikerumuni banyak orang. Perlahan,
tanpa bisa kucegah air mata mengalir di pipiku, aku tak bisa menahan tangis
ini.
Semalam
sekitar jam dua dini hari, kakekku menghembuskan nafas terakhirnya. Tetapi, aku
tidak ada disisinya saat malaikat mencabut bagian terakhir dari nyawa kakekku.
Aku tidak ada disana untuk menuntun kakekku untuk melafaskan asma Allah. Dan
aku tidak berada disebelahnya saat seharusnya ia membutuhkanku. Malam itu aku
merasa tidak ada firasat apapun yang aku rasakan.
Saat
aku ingin menghampiri kakek, rasanya berat sekali untuk melangkahkan kaki ini.
Mendekat ke sisi ranjang kakekku, dan disanalah dia kakekku terbaring dalam
diamnya dengan senyum penuh kedamaian menghias wajahnya. Disampingnya ada
nenekku yang selalu menyebut nama kakek sambil terus menangis tersedu-sedu.
Aku
menggenggam tangan kakekku yang sudah dingin, memanggilnya berkali-kali untuk
memastikan bahwa ini bukan candaan yang biasa dilakukannya. Adikku yang baru saja
datang dengan dengan ibu, terkejut dan memanggil kakekku. Aku masih tak percaya
dengan semua ini, kakek yang begitu gagah, baik, dan sering bercanda ini telah
meninggalkan kami semua.
Ibuku
yang sebenarnya masih merasa kehilangan dan air matanya yang terus menetes
dipipinya mulai mengelap air matanya, sejak aku duduk disisinya sambil
membacakan surat Yasin untuk kakek. Mata ibuku tidak pernah berpaling dari
tubuh kaku ayahnya. Ibuku yang cerewet, yang gesit sekali dalam bekerja, untuk
pertama kalinya mengungkapkan rasa cinta mendalamnya untuk ayah kandungnya. Aku
tak bisa melakukan apapun, kecuali menggengam tangan ibu dan menangis
bersamanya. Kakekku yang gagah, yang tidak pernah mengeluh rasa sakitnya,
tiba-tiba telah terbaring kaku, tidak bergerak, tak juga bernafas. Inilah yang
mengejutkan semua orang termasuk aku
Setelah
dimandikan dan dishalati, jenazah kakek digotong untuk menuju makam. Aku, ayah,
ibu, dan adikku ikut kesana. “Allahu akbar Allahu akbar lailahaillallah.”
Sayup-sayup terdengar suara adzan yang dikumandangkan oleh ayah disela
tangisnya. Ayah perlahan keluar dari lubang kubur kakek. Tanah merah mulai
berjatuhan kedalam lubang kubur kakek, tetapi aku belum juga mengucap apapun.
Bukan karena tidak tahu apa yang harus aku katakan, bukan juga karena aku tidak
ingin mengatakannya. Tetapi karena aku masih marah pada kakek. Sejujurnya aku
tidak suka dengan semua ini. bagaimana bisa kakekku tersenyum begitu tenang
setelah meninggalkan kami. Adikku dan ibuku perlahan mundur dari lubang kubur
kakek, aku pun masih tetap menunggu sampai lubang kubur itu terpenuhi oleh
tanah merah.
Kakek telah mengajari kami yang masih bernafas untuk mengikhlaskan
kepergian seseorang yang sudah meninggal. Kini, kami semua menuju kehidupan
baru tanpa seorang kakek. Kini, kami menjalankan Idul Fitri tanpa seorang
kakek, tanpa seseorang yang selalu mendukungku.
Semua
itu hanya bisa teringat oleh pikiran dan di ingat untuk menjadi kenangan untuk
kami semua. Antara ikhlas dan tidak ikhlas sebenarnya kami harus ikhlas
menerimanya. Seminggu setelah kepergian kakek, aku masih teringat
kenangan-kenangan yang pernah kita alami bersama. Kenangan itu bagaikan pesan
yang dititipkan kepadaku untuk hidup menjadi lebih baik dan menghormati orang
yang lebih tua. Semoga kenangan itu menjadi pelajaran yang baik untukku.


Nice👌
BalasHapus